Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 24 April 2010

Contoh Soal Essay

NASKAH SOAL ULANGAN TENGAH SEMESTER Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam Guru Mp : Ardoni Ernanda, M. Ag Kelas/ Semester : XI/ II Program : Keagamaan Bentuk Soal : Essay Jawablah pertanyaan berikut ini secara Jujur dan Benar.! 1. Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintah dalam kondisi yang belum Aman dan banyak ancaman dari pemberotak Sebutkan 3 macam pemberontakan yang dihadapi oleh Khalifah Abdul Malik Bin Marwan…! 2. Sebutkan 5 buah keistimewaan Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz..! 3. Sebutkan 6 Kerajaan Islam yang berdiri diluar kekuasaan Bani Abbasiyah yang turut serta membawa Kejayaan Islam…! 4. Sebutkan 4 buah kerajaan –kerajaan Islam yang berada di wilayah Mesir..! 5. Kerajaan Islam di India tumbuh dan berkembang secara mandiri dan mampu memperluas wilayah kekuasaan keberbagai daaerah disekitarnya. Sebutkan 6 buah kerajaan Islam yang muncul di India ..! 6. Jelaskan 3 faktor penyebab mundur dan runtuhnya Daulah Bani Abbasiyah...! 7. Sebutkan Penyebab munculnya kerajaan kecil di masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah..! 8. Mengapa Ilmu Fiqih pada masa akhir kekuasaan Bani Abbasiyah mengalami kemunduran..! 9. Hancurnya Kota Bagdad dan tewasnya Khalifah al-Musta'shim mengakhiri kekuasaan dinasti bani Abbasiyah dan sekaligus membawa Islam pada masa kesuraman., sebutkanlah bangsa apa yang megalahkan dinasti Bani Abbasiyah dan sebutkan siapa pimpinannya..? 10. Jelaskan factor penyebab kemunduruan kerajaan Safawi di Persia..! 11. Untuk mengatasi perbedaan agama agar tidak terjadi konflik umat beragama di India, Sultan Akbar membuat kebijakan dalam politinya, Jelaskanlah Kebijakan poltik apa yang dibuat oleh Sultan Akbar..? 12. Sebutkanlah 4 orang Sultan yang membawa kerajaan Mughal mencapai kemajuannya.! 13. Jelaskan penyebab kemunduran kerajaan Mughal di India..! 14. Jelaskan 2 buah kerajaan yang didirikan oleh bangsa Turki yang cukup berpengaruh dalam dunia Islam..! 15. Sebutkan 2 buah Aliran Tarikat yang muncul diakhir pemerintahan kerajaan Turki Usmani dan berpihak kepada siapa..? GOOD LUCK Kunci Jawaban 1. (a). Pemberontakan Golongan Syi'ah (664 H=686 M) di bawah pimpinan Abdullah bin Ziyad (b). Pemberontakan Abdullah bin Zubair (72 H=692 M) (c). Pemberontakan Kaum Khawarij. 2. (a). Jabatan Khalifah yang akan dipangku atau disandangnya terlebih dahulu ditawrkan kepada rakyat dan ternyata mayoritas rakyat menyetujuinya. (b). Kahlifah memerintah lebih mementingkan masalah agama daripada masalah politik (c). Khalifah lebih mementingkan persatuan Umat Islam daripada kepentingan golongannya (d). Penyiaran Islam disiarkan dengan jalan Damai (e). Khalifah Adil terhadap semua pihak 3. – Daulah Murabitun (1086-1143 M) dipimpin oleh Yusuf Ibn Tasyfin - Daulah Muwahiddun (1146-1235 M) dipimpin oleh Muhammad Ibn Tumart - Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M) di Granada - Daulah Bani Idrisiyah (788-983 M)di Maroko pendirinya Idris bin Abdullah - Daulah Bani Ikhsidiyah (932-1163 M) di Turkistan dipimpin oleh Abu Bakar Ibn Muhammad Thaqi - Daulah Bani Aghlabiyah (800-900 M) di Tunisia pendirinya Ibrahim bin Aghlab 4. 1). Bani Thuluniyah (869-905 M) didirikan oleh Ahmad ibn Thulun 2). Bani Ikhsidiyah (935-973 M)di Mesir dipimpin oleh Ikhsid Muhammad Thagaj 3). Dinasi Fatimiyah (297-567 M) pendirinya Abu Ubaidillah 4). Bani Ayyubiyah (1171-1260 M) pendirinya Shalahuddin al-Ayyubi atau sering disebut Saladin. 5. a). Kerajaan Sabaktakin (976-1183 M) pendirinya Alp Takin dari Bani Saman b). Kerajaan Ghazi (1186 M) pendirinya Alaiddin Husain ibn Husain c). Kerajaan Mamluk pendirinya Tibek seorang Budak yang diangkat menjadi raja penganti Al-Ghozi. d). Dinasti Tuglak (1325-1351 M) rajanya Muhammad Ibn Tuglak dan Firus Syah. Ini kerajaan Islam terakhir di India sebelum datangnya Bangsa Mongol. e). Dinasti Kilji Raja pertamanya adalah Sultan Alaudin dari Afghanistan f). Dinasti Dekan, pendirinya adalah keluarga Bahmami dari Afghanistan. 6. (1). Lemahnya tenaga pembela sebagai pengawal dari kelompok Turki dan Persia yang diangkat oleh Khalifah. (2). Persaingan dalam perebutan kekuasaan yang tiada hentinya antara Abbasiyah dan Mawali ( Awaliyah) dan saling mencari kelemahan antara keduanya. (3). Jatuhnya nilai-nilai amanah dalam segala aspek, akibatnya banyak pekabat yang korupsi dan hilangnya kepercayaan terhadap pemerintah. 7. Penyebab munculnya kerajaan kecil dimasa Bani Abbasiyah adalah karena lemahnya pemerintahan pusat dan memberi peluang bagi tentara bayaran untuk berkuasa, kemudian wilayah yang sangat luas dan sulit mengontrol, dan saling terjadi perselisihan antara kelompok Turki dan Persia. 8. Karena banyak masyarakat yang menjadi Muqaallid ( orang bertaklid) daripada mempelajari dari sumber aslinya. Hal ini juga dipengaruhi oleh perkembangan ajaran Tasauf yang dipahami secara Harfiah oleh umat. 9. Hancurnya kota bagdad yang diserang oleh bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan membuat DInasti ini menjadi hancur dan sekaligus menghilangkan kekayaan peradaban Islam yang dibumihanguskan oleh tentara mongol, buku-buku dibakar, bangunan masjid dan pustaka dihancurkan, umat Islam dibunuh secara membabi butta dan tidak mempunyai rasa perikemanusiaan. 10. Penyebab mundurnya Kerajaan Safawi di Persia, selain ketidak cakapan sejumlah raja setelah Abbas I, hingga pada kahirnya membawa kepada kehancuran. Diantara adalah Konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani, dan pasukan Budak yang bentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Qizilbash. 11. Kebijakan yang diambil oleh Sultan Akbar di India agar tidak terjadi konflik beragama dalam kerajaan Mughal adalah kebijakan politik Sulakhul, (toleransi Universal), politik ini mengandung ajaran bahwa semua rakyat India sama kedudukannya, mereka tidak dapat dibedakan karena perbedaan etnis dan agama. Bahkan Akbar ingin membentuk agama baru, yaitu dengan menyatukan agama-agama yang ada di India yang sebut dengan DIN ILAHI. 12. Raja yang termashur di kerajaan Mughal di India adalah : Akbar putra Humayyun (1556-1603 M), Jehanggir (1605-1627 M), Syah Jihan ( 1628-1658 M) dan Aurangzeb (1659-1707 M). 13. Penyebab kemunduran kerajaan Mughal di India adalah konflik internal di kalangan istina, adanya serangan bangsa Hindu, serangan dari bangsa Persia dan masuknya unsure asing seperti bangsa Ingris yang menguasai sector ekonomi dengan mendirikan IEC ( the East India Campany). 14. Bangsa Turki mendirikan dua buah kerajaan Islam yang cukup memberi pengaruh di dunia Islam, yaitu : (a). Kerajaan Turki Saljuk yang berasal dari perhimpunan kabilah-kabilah dalam rumpun Ghus, mereka tinggal di Turkistan di daerah kekuasaan Raja Bighu. (b). Kerajaan Turki Usmani yang berpangkal pada sebuah suku kecil, yakni kabilah Ughu, semula mereka tinggal disebalah utara China dank arena tekanan-tekanan bangsa mongol mereka pindah kebarat dan bergabung dengan saudara mereka turki saljuk di asia kecil. 15. – Tarekat Al-Bektasi yang berpihak dan berpengaruh dikalangan tentara Jennisary dan melakukan pemberontakan. - Tarekat Al-Maulawi yang berpihak kepada penguasa sebagai imbangan dari kelompok Jennisary Baktesi.

Artikel

ISLAM DAN KEBUDAYAAN Oleh Ardoni Ernanda, M.Ag ( Guru MAN 2 Batusangkar ) Kata agama dan kebudayaan merupakan dua kata yang seringkali bertumpang tindih, sehingga mengaburkan pamahaman kita terhadap keduanya. Banyak pandangan yang menyatakan agama merupakan bagian dari kebudayaan tetapi tak sedikit pula yang menyatakan kebudayaan merupakan hasil dari agama. Hal ini seringkali membingungkan ketika kita harus meletakan agama (Islam) dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Koentjaraningrat mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Koentjaraningrat juga menyatakan bahwa terdapat unsur-unsur universal yang terdapat dalam semua kebudayaan yaitu, sistem religi, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, serta sistem teknologi dan peralatan Pandangan di atas, menyatakan bahwa agama merupakan bagian dari kebudayaan. Dengan demikian, agama (menurut pendapat di atas) merupakan gagasan dan karya manusia. Bahkan lebih jauh Koentjaraningrat menyatakan bahwa unsur-unsur kebudayaan tersebut dapat berubah dan agama merupakan unsur yang paling sukar untuk berubah. Ketika Islam diterjemahkan sebagai agama (religi) berdasar pandangan di atas, maka Islam merupakan hasil dari keseluruhan gagasan dan karya manusia. Islam pun dapat pula berubah jika bersentuhan dengan peradaban lain dalam sejarah. Islam lahir dalam sebuah kebudayaan dan berkembang (berubah) dalam sejarah. Islam merupakan produk kebudayaan. Islam tidaklah datang dari langit, ia berproses dalam sejarah. Pandangan tersebut telah melahirkan pemahaman rancu terhadap Islam. Pembongkaran terhadap sejarah Al-Qur’an, justifikasi terhadap ide-ide sekulerisme, dan desakan untuk ‘berdamai’ menjadi Islam Inklusif, merupakan produk dari kerancuan pemahaman tersebut. Agama yang disebut dalam pandangan Kontjaraningrat di atas tentu tidak dapat dinisbatkan kepada Islam. Pemaksaan untuk memasukan Islam dalam teori tersebut akan menghasilkan pemahaman yang rancu. Islam seharusnya diberi kesempatan untuk menafsirkan dirnya sendiri. Islam pun harus berikan keleluasaan untuk mendevinisikan kebudayaan. Buya Hamka menyatakan bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa itu sedia telah ada dalam jiwa manusia sendiri. Hal itulah yang universal dalam diri manusia, fitrah manusia. Manusia melihat alam yang megah dan berbagai fenomena luar biasa, kemudian mencoba untuk menjelaskannya. Dari fitrah itulah menusia kemudian mencari tahu “siapa yang Maha Kuasa?”. Pencarian manusia tersebut telah melahirkan banyak paham dan pandangan yang kemudian dipercayai sebagai agama. Agama-agama semacam ini bukanlah agama yang diturunkan Allah Swt kepada para nabinya, tetapi agama yang berasal dari akal budi dan gagasan manusia. Agama semacam inilah yang tepat untuk dinisbatkan kepada teori Kuntjaraningrat di atas. Hanya Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Buya Hamka menyatakan : Permulaan perjalanan dinamakan fitrah. Akhir dari perjalanan dinamai Islam.Yang dimaksud dengan kalimat tersebut yaitu, bahwa fitrah manusia untuk mencari Yang Maha Kuasa, akan tetapi manusia akhirnya menyerah karena akal tidak cukup untuk memahaminya. Islam memberikan penjelasan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Itulah kenapa agama ini dinamakan Islam. …maka insaflah manusia akan kelemahan dirinya, dan insaf akan ke-Maha Besarnya Yang Ada itu. Maka menyerahlah dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa Arab dinamakan Islam Lebih jauh Syed Naquib Al-Attas menyatakan: ”…Maka dengan pengertian faham agama yang bernisbah kepada kebudayaan seperti yang biasa difahamkan dalam pengalaman Kebudayaan Barat itu tiada pula dapat dikenakan kepada agama Islam–berbeda dari yang lain yang sesungguhnya merupakan keagamaan belaka— bukan hasil renungan atau teori, bukan hasil agung dayacipta insan sebagaimana kebudayaan itu hasil usaha dan dayaciptanya dalam tindakan menyesuaikan dirinya menghadapi keadaan alam sekeliling. Islam adalah agama dalam arti kata yang sebenarnya, yaitu agama yang ditanzilkan oleh Allah Yang Mahasuci lagi Mahamurni dengan perantara wahyu menerusi PesuruhNya yang Terpilih, dan dasar-dasar akidahnya dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur’anu’l-Karim, dan amalan-amalannya ditentukan dan diatur dalam Sunnah Nabi yang Agung itu. Dipandang sebagai suatu peristiwa. Sejarah pun maka Islam itulah yang mengakibatkan timbulnya kebudayaan Islam, dan bukan sebaliknya: bukanlah sesuatu kebudayaan itu yang mengakibatkan timbulnya agama Islam. Sementara Prof. Dr. Amer Al-Roubai menyatakan: ”Di Barat, agama adalah bagian dari kebudayaan, sedangkan di Islam, budaya didefinisikan oleh agama” Islam bukanlah hasil dari produk budaya (seperti yang dituduhkan oleh Nasr Hamd Abu Zayd). Islam justru membangun sebuah budaya, sebuah peradaban. Peradaban yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi tersebut dinamakan peradaban Islam. Peradaban Islam memiliki pandangan hidup (worldview) yang berbeda dengan peradaban lain. Cara pandang hidup yang berbeda inilah yang menghasilkan konsep-konsep yang berbeda pula. Oleh karena itu, merupakan hak Islam untuk menggunakan pandangan hidupnya (dalam bahasa Al-Attas: ar-Ruyatul al-Islam li al-wujud) untuk memahami setiap keberadaan, termasuk kebudayaan. Dengan pemahaman di atas, kita dapat memulai untuk meletakan Islam dalam kehidupan keseharian kita. Serta perlunya kita tularkan kepada generasi yang akan datang. Dan sebagai guru yang berada di bawah Departemen Agama ini juga sepatutnya kita untuk membangun kebudayaan Islam dengan landasan konsep yang berasal dari Islam pula (al-Qur’an dan al-Hadits), diantara upaya yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan masyarakat yang berbudaya Islam di lingkungan Madrasah adalah : 1. Guru memulai berpakaian Islami 2. Setiap akan memulai pelajaran memberi motivasi pentingnya berbudaya Islam dalam keseharian 3. Memberi Tauladan di depan siswa 4. Mengoptimalkan Simbol-simbol Islam di Lingkungan Madrasah. Semoga Wallahu ‘alam bi Showab Referensi Koentjaraningrat, Kebudyaan Mentalitet dan Pembangunan, PT. Gramedia, Jakarta, 1974. hlm 19 Hamka, Peladjaran AgamaIslam, Bulan Bintang, Jakarta 1956. hlm.13 Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Institut Antarbangsa Pemikiran dan Tamadun Islam (Istac), Kuala Lumpur, 2001. hlm. 66 Prof. Dr. Amer Al-Roubai, Globalisasi dan Posisi PeradabanIslam, Jurnal ISLAMIA Thn I No 4, Januari –Maret 2005. hlm 21

PRAMUKA MAN 2 BSK

PRAMUKA GUDEP MAN 2 BATUSANGKAR

Suatu beban moral yang besar bagi anggota pramuka MAN 2 Batusangkar, sebab anggota pramuka MAN 2 Batusangkar mendapat tanggung jawab dan amanah dari Satuan Karya WIRA KARTIKA dan Satuan Karya AMAL BHAKTI dalam perkemahan peran SAKA di pagaruyung.

Acara ini berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 12 s/d 14 Maret 2010. pelaksanaan acara ini sebagaimana dalam undangan yang diberikan terhadap Gudep MAN 2 Batusangkar sebagai perwakilan SAKA WIRA KARTIKA adalah untuk ikut serta mensukseskan Perkemahan JAMBORE BUDAYA SERUMPUN INDONESIA-MALAYSIA yang pelakasanaan acaranya jatuh pada tanggal 8 s/d 13 Juni 2010 nanti.

Bentuk acara yang dilalui dalam PERAN SAKA ini adalah

  1. Pengembangan Diri Peserta Didik
  2. Krida SAKA
  3. Orientasi Pembina/Pamong Sala
  4. Bhkati Sosial ( Gotong Royong)

Untuk point yang no. 4 seluruh Masyarakat perkemahan ikut serta dan ambil bagian dalam pembersihan lokasi BUmi Perkemahan untuk JAMBORE.

Alhamdulillah seluruh rangkaian acara telah terlaksana dengan baik, meskipun masih ada kekurangan untuk diperbaiki dimasa mendatang. Anggota Pramuka MAN 2 Batusangkar kembali ke GUDEP dan disambut langsung oleh Kamabigus H. NASRUL ISMAIL, S.Pd.I dihalaman Kampus MAN 2 Batusangkar didampingi oleh Pembina dan Dandramil Lima Kaum selaku Pamong SAKA WIRA KARTIKA tersebut. Pada acara penyambutan kembali anggota Pramuka MAN 2 Batusangkar, Dandramil Lima Kaum selaku Pamong Saka mengucapkan terima kasih atas pengabdian dan bakhti adik pramuka dari MAN ini, dan beliau juga memberikan harapan dimasa mendatang akan membina anggota Pramuka MAN secara kontineu. Acara ini diakhiri dengan minum bersama sebagai lambang kebersamaan dalam acara-acara pramuka.

Kamis, 02 Juli 2009

Curiculum Vitae

CURICULUM VITAE

IDENTITAS

Nama : ARDONI ERNANDA

Tempat / Tgl Lahir : Salimpaung / 19 Agustus 1977

Alamat : Jorong Balai Batu Nagari Lima Kaum

Kec. Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar (SUMBAR)

RIWAYAT PENDIDIKAN

1. SDN No. 33 Koto Tuo Salimpaung Lulus tahun 1990

2. MTI/MTsN Bukarek Kamang Agam Lulus tahun 1994

3. MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang Lulus tahun 1997

4. S1 Jurusan Tarbiyah STAIN Batusangkar Lulus tahun 2001

5. S2. UIN Bandung Lulus tahun 2009

RIWAYAT PEKERJAAN

1. Guru MAN 2 Batusangkar Tahun 2002 s/d Sekarang

RIWAYAT KELUARGA

  1. Istri

Nama : ALVI SYUKRIATI

Pekerjaan : Wiraswasta /Jualan

Tempat/ Tgl Lahir : Bukittinggi / 18 November 1978

  1. Anak
    1. Alhadi Akbar Vinanda
    2. Adzkya Rahmy Vinanda

Makalah

Urgensi Pendidikan Agama dalam Keluarga dan Implikasinya terhadap Pembentukan Kepribadian Anak

By: Ardoni Ernanda

Dalam perspektif pendidikan, terdapat tiga lembaga utama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seorang anak yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat, yang selanjutnya dikenal dengan istilah Tripusat Pendidikan. Dalam ­ GBHN (Tap. MPR No. IV/MPR/1978) ditegaskan bahwa “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat”. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Zakiah Darajat, 1992).

Lembaga keluarga merupakan tempat pertama untuk anak menerima pendidikan dan pembinaan. Meskipun diakui bahwa sekolah mengkhususkan diri untuk kegiatan pendidikan, namun sekolah tidak mulai dari “ruang hampa”(Hery Noer Aly, 2000). Sekolah menerima anak setelah melalui berbagai pengalaman dan sikap serta memperoleh banyak pola tingkah laku dan keterampilan yang diperolehnya dari lembaga keluarga.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan di segala bidang, manfaatnya semakin hari semakin dirasakan oleh semua kalangan. Revolusi informasi menyebabkan dunia terasa semakin kecil, semakin mengglobal dan sebaliknya privacy seakan tidak ada lagi. Berkat revolusi informasi itu, kini orang telah terbiasa berbicara tentang globalisasi dunia dengan modernitas sebagai ciri utamanya. Dengan teknologi informasi yang semakin canggih, hampir semua yang terjadi di pelosok dunia segera diketahui dan ketergantungan (interdependensi) antar bangsa semakin besar (Nurcholish Madjid, 2000).

Perkembangan tersebut – termasuk didalamnya perkembangan ilmu pengetahuan – di samping mendatangkan kebahagiaan, juga menimbulkan masalah etis dan kebijakan baru bagi umat manusia. Efek samping itu ternyata berdampak sosiologis, psikologis dan bahkan teologis. Lebih dari itu, perubahan yang terjadi juga mempengaruhi nilai-nilai yang selama ini dianut oleh manusia, sehingga terjadilah krisis nilai. Nilai-nilai kemasyarakatan yang selama ini dianggap dapat dijadikan sarana penentu dalam berbagai aktivitas, menjadi kehilangan fungsinya (Syahrin Harahap, 1999).

Untuk menyikapi fenomena global seperti itu, maka penanaman nilai-nilai keagamaan ke dalam jiwa anak secara dini sangat dibutuhkan. Dalam hubungan itu, keluarga pada masa pembangunan (dalam konteks keindonesiaan dikenal dengan era tinggal landas) tetap diharapkan sebagai lembaga sosial yang paling dasar untuk mewujudkan pembangunan kualitas manusia dan lembaga ketahanan untuk mewujudkan manusia-manusia yang ber-akhlakul karimah (Melli Sri Sulastri, 1993). Pranata keluarga merupakan titik awal keberangkatan sekaligus sebagai modal awal perjalanan hidup mereka (Abin Syamsuddin, 1993).

Mengingat arti penting dan strategisnya makna fungsional keluarga, maka hal itulah yang memotivasi penulis untuk mengangkat masalah ini untuk selanjutnya disuguhkan dalam bentuk makalah.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan terdahulu, maka yang menjadi permasalahan pokok dalam makalah ini ialah “bagaimana urgensi penerapan pendidikan agama kepada anak dalam keluarga dan peranannya dalam membentuk kepribadian anak”. Selanjutnya, permasalahan pokok tersebut dirumuskan untuk menjadi acuan pembahasan sebagai berikut: (1) bagaimana urgensi penerapan pendidikan agama terhadap anak dalam keluarga?, (2) bagaimana implikasi penerapan pendidikan agama kepada anak dalam keluarga terhadap penanaman nilai-nilai moral keagamaan?

PEMBAHASAN

Urgensi Penerapan Pendidikan Agama Terhadap Anak dalam Keluarga

Pendidikan agama merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada anak sejak dini ketika masih muda. Hal tersebut mengingat bahwa pribadi anak pada usia kanak-kanak masih muda untuk dibentuk dan anak didik masih banyak berada di bawah pengaruh lingkungan rumah tangga. Mengingat arti strategis lembaga keluarga tersebut, maka pendidikan agama yang merupakan pendidikan dasar itu harus dimulai dari rumah tangga oleh orang tua.

Pendidikan agama dan spiritual termasuk bidang-bidang pendidikan yang harus mendapat perhatian penuh oleh keluarga terhadap anak-anaknya. Pendidikan agama dan spiritual ini berarti membangkitkan kekuatan dan kesediaan spiritual yang bersifat naluri yang ada pada kanak-kanak. Demikian pula, memberikan kepada anak bekal pengetahuan agama dan nilai-nilai budaya Islam yang sesuai dengan umurnya sehingga dapat menolongnya kepada pengembangan sikap agama yang betul.

Inti pendidikan agama sesungguhnya adalah penanaman iman kedalam jiwa anak didik, dan untuk pelaksanaan hal itu secara maksimal hanya dapat dilaksanakan dalam rumah tangga. Harun Nasution menyebutkan bahwa pendidikan agama, dalam arti pendidikan dasar dan konsep Islam adalah pendidikan moral. Pendidikan budi pekerti luhur yang berdasarkan agama inilah yang harus dimulai oleh ibu-bapak di lingkungan rumah tangga. Disinilah harus dimulai pembinaan kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam diri anak didik. Lingkungan rumah tanggalah yang dapat membina pendidikan ini, karena anak yang berusia muda dan kecil itu lebih banyak berada di lingkungan rumah tangga daripada di luar (Harun Nasution, 1995).

Tugas lingkungan rumah dalam hal pendidikan moral itu penting sekali, bukan hanya karena usia kecil dan muda anak didik serta besarnya pengaruh rumah tangga, tetapi karena pendidikan moral dalam sistem pendidikan kita pada umumnya belum mendapatkan tempat yang sewajarnya. Pendidikan formal di Indonesia masih lebih banyak mengambil bentuk pengisian otak anak didik dalam pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan untuk masa depannya, sehingga penanaman nilai-nilai moral belum menjadi skala prioritas. Oleh sebab itu, tugas ini lebih banyak dibebankan pada keluarga atau rumah tangga. Jika rumah tangga tidak menjalankan tugas tersebut sebagaimana mestinya, maka moral dalam masyarakat kita akan menghadapi krisis.

Dari segi kegunaan, pendidikan agama dalam rumah tangga berfungsi sebagai berikut: pertama, penanaman nilai dalam arti pandangan hidup yang kelak mewarnai perkembangan jasmani dan akalnya, kedua, penanaman sikap yang kelak menjadi basis dalam menghargai guru dan pengetahuan di sekolah (Ahmad Tafsir, 1994).

Bagaimanapun sederhananya pendidikan agama yang diberikan di rumah, itu akan berguna bagi anak dalam memberi nilai pada teori-teori pengetahuan yang kelak akan diterimanya di sekolah. Inilah tujuan atau kegunaan pertama pendidikan agama dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, peranan pendidikan (khususnya pendidikan agama) memainkan peranan pokok yang sepatutnya dijalankan oleh setiap keluarga terhadap anggota-anggotanya. Lembaga-lembaga lain dalam masyarakat, seperti lembaga politik, ekonomi dan lain-lain, tidak dapat memegang dan menggantikan peranan ini. Lembaga-lembaga lain mungkin dapat membantu keluarga dalam tindakan pendidikan, akan tetapi tidak berarti dapat menggantikannya, kecuali dalam keadaan-keadaan luar biasa (Hasan Langgulung, 1995).

Barangkali ada orang yang sering berbicara tentang pendidikan sementara pandangannya tertuju secara khusus kepada sekolah. Pendidikan lebih luas dari sekedar sekolah. Memang sekolah merupakan suatu lembaga yang mengkhususkan diri untuk kegiatan pendidikan, namun tidak dipungkiri bahwa sekolah menerima anak setelah anak ini melalui berbagai pengalaman dan memperoleh banyak pola tingkah laku dan keterampilan dalam rumah tangga.

Dalam kehidupan masyarakat primitif, keluarga menjalankan proses pengembangan sosial anak dengan memperkenalkan berbagai keterampilan, kebiasaan dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kehidupan komunitas. Karena kehidupan masyarakat primitif masih sederhana, baik dalam anasir-anasir maupun isinya, maka pola-pola pendidikannya pun masih sangat sederhana. Sejalan dengan perkembangan sejarah dan kompleknya kehidupan, terjadi perubahan besar terhadap masyarakat. Implikasinya, anak-anak mengalami kesulitan untuk belajar dengan sekedar meniru. Demikian pula, orang tua sudah mengalami kesulitan untuk tetap tinggal bercengkrama bersama anak-anaknya sepanjang hari. Dari situ muncul kebutuhan akan suatu lembaga khusus yang membantu keluarga dalam mendidik anak-anak dan memelihara kelangsungan hidup komunitas (Hery Nur Aly, 2000).

Demikianlah, keluarga pernah dan masih tetap merupakan tempat pendidikan pertama, tempat anak berinteraksi dan menerima kehidupan emosional. Individu dewasa ini menghadapi arus informasi dan budaya modern yang mesti disikapi. Kesalahan utama yang dilakukan budaya modern yang berpijak pada budaya barat adalah lahirnya pandangan bahwa segala yang bersumber dari barat diserap dan dianggap sebagai ciri kemodernan (Akbar S Ashmed, 1993). Akibatnya, penyerapan secara membabi buta terhadap cara pandang seperti itu menyebabkan generasi-generasi muda (remaja) terjerumus ke dalam berbagai bentuk penyimpangan dan kenakalan yang tidak dapat ditolerir secara agamis.

Persoalan kenakalan remaja yang sering menjadi buah bibir dan bahan diskusi berbagai kalangan merupakan salah satu tema yang merupakan implikasi dari salah kaprah terhadap makna modernitas. Berkumpulnya remaja-remaja yang menyebabkan terganggunya orang-orang yang ada di sekelilingnya, tindakan-tindakan seperti minum minuman keras, menelan obat-obat terlarang, pemuasan nafsu seksual, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya, sebagaian besar merupakan akibat dari kesalahan pemaknaan tersebut. Di samping itu, egoisme pribadi yang mengakibatkan pelecehan terhadap hak-hak orang lain menandai dunia yang semakin maju.

Bekal pendidikan agama yang diperoleh anak dari lingkungan keluarga akan memberinya kemampuan untuk mengambil haluan di tengah-tengah kemajuan yang demikian pesat. Keluarga muslim merupakan keluarga-keluarga yang mempunyai tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik generasi-generasinya untuk mampu terhindar dari berbagai bentuk tindakan yang menyimpang. Oleh sebab itu, perbaikan pola pendidikan anak dalam keluarga merupakan sebuah keharusan dan membutuhkan perhatian yang serius.

Suatu kenyataan yang dapat dipastikan bahwa masa remaja adalah masa yang penuh dengan kegoncangan, di samping itu disadari pula bahwa remaja mempunyai potensi yang sangat besar. Oleh karena itu, remaja sangat memerlukan pembinaan. Agamalah yang dapat membantu mereka dalam mengatasi dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianut oleh para orang tua atau lingkungan tempat mereka hidup. Ajaran agama Islam berintikan keyakinan (aqidah), ibadah, syariah dan akhlak yang sangat membantu dalam mengatasi kehidupan remaja yang serba kompleks (Abd. Rahman Getteng, 1997).

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa tujuan utama dari pendidikan dalam keluarga adalah penanaman iman dan moral terhadap diri anak. Untuk pencapaian tujuan tersebut maka keluarga itu sendiri dituntut untuk memiliki pola pembinaan terencana terhadap anak. Di antara pola pembinaan terstruktur tersebut: (1) memberi suri tauladan yang baik bagi anak-anak dalam berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agama dan akhlak yang mulia; (2) menyediakan bagi anak-anak peluang-peluang dan suasana praktis di mana mereka mempraktekkan akhlak yang mulia yang diterima dari orang tuanya; (3) memberi tanggung jawab yang sesuai kepada anak-anak supaya mereka merasa bebas memilih dalam tindak-tanduknya; (4) menunjukkan bahwa keluarga selalu mengawasi mereka dengan sadar dan bijaksana dalam sikap dan tingkah laku kehidupan sehari-hari mereka; (5) menjaga mereka dari pergaulan teman-teman yang menyeleweng dan tempat-tempat yang dapat menimbulkan kerusakan moral.

Pembinaan anak secara terencana seperti yang disebutkan di atas, akan memudahkan orang tua untuk mancapai keberhasilan pendidikan yang diharapkan.

Implikasi Penerapan Pendidikan Agama dalam Keluarga bagi Pembentukan Kepribadian Anak

Pembentukan kepribadian anak sangat erat kaitannya dengan pembinaan iman dan akhlak. Secara umum para pakar kejiwaan berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu mekanisme yang mengendalikan dan mengarahkan sikap dan perilaku seseorang. Kepribadian terbentuk melalui semua pengalaman dan nilai-nilai yang diserap dalam pertumbuhannya, terutama pada tahun-tahun pertama dari umurnya. Apabila nilai-nilai agama banyak masuk ke dalam pembentukan kepribadian seseorang, tingkah laku orang tersebut akan diarahkan dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama. Di sinilah letak pentingnya pengalaman dan pendidikan agama pada masa-masa pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Oleh sebab itu, keterlibatan orang tua (baca: keluarga) dalam penanaman nilai-nilai dasar keagamaan bagi anak semakin diperlukan (Zakiah Darajat, 1993).

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak dalam keluarga, dapat memberikan implikasi-implikasi sebagai berikut:

(1) Anak memiliki pengetahuan dasar-dasar keagamaan.

Kenyataan membuktikan bahwa anak-anak yang semasa kecilnya terbiasa dengan kehidupan keagamaan dalam keluarga, akan memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan kepribadian anak pada fase-fase selanjutnya. Oleh karena itu, sejak dini anak seharusnya dibiasakan dalam praktek-praktek ibadah dalam rumah tangga seperti ikut shalat jamaah bersama dengan orang tua atau ikut serta ke mesjid untuk menjalankan ibadah, mendengarkan khutbah atau ceramah-ceramah keagamaan dan kegiatan religius lainnya. Hal ini sangat penting, sebab anak yang tidak terbiasa dalam keluarganya dengan pengetahuan dan praktek-praktek keagamaan maka setelah dewasa mereka tidak memiliki perhatian terhadap kehidupan keagamaan (Hasbullah, 1999).

Pengetahuan agama dan spiritual termasuk bidang-bidang pendidikan yang harus mendapat perhatian penuh oleh keluarga terhadap anak-anaknya. Pengetahuan agama sangat berarti dalam membangkitkan kekuatan dan kesediaan spritual yang bersifat naluri yang ada pada anak melalui bimbingan agama dan pengalaman ajaran–ajaran agama dan pengamalan ajaran–ajaran agama yang disesuaikan dengan tingkatan usianya, sehingga dapat menolong untuk mendapatkan dasar pengetahuan agama yang berimplikasi pada lahirnya kesadaran bagi anak tersebut untuk menjalankan ajaran agama secara baik dan benar (Hasan langgulung, 1995)..

Keluarga memegang peranan penting dalam meletakkan pengetahuan dasar keagaman kepada anak–anaknya. Untuk melaksanakan hal itu, terdapat cara–cara praktis yang harus digunakan untuk menemukan semangat keagamaan pada diri anak, yaitu : (a) memberikan teladan yang baik kepada mereka tentang kekuatan iman kepada Allah dan berpegang teguh kepada ajaran-ajaran agama dalam bentuknya yang sempurna dalam waktu tertentu, (b) membiasakan mereka melaksanakan syiar-syiar agama semenjak kecil sehingga pelaksanaan itu menjadi kebiasaaan yang mendarah daging, dan mereka melakukannya dengan kemauan sendiri dan merasa tentram sebab mereka melaksanakannya, (c) menyiapkan suasana agama dan spritual yang sesuai di rumah di mana mereka berada, (d) membimbing mereka membaca bacaan-bacaan agama yang berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah dan makhlu-makhluk-nya untuk menjadi bukti kehalusan sistem ciptaan itu dan atas wujud dan keagungan-nya, (e) menggaklakkan mereka turut serta dalam aktivitas-aktivitas agama dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya dalam berbagai macam bentuk dan cara (Ibid, 1992).

Dirumah, ayah dan ibu mengajarkan dan menanamkan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anaknya, termasuk di dalamnya dasar-dasar kehidupan bernegara, berprilaku yang baik dan hubungan-hubungan sosial lainnya. Dengan demikian, sejak dini anak-anak dapat merasakan betapa pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam pembentukan kepribadian. Latihan-latihan keagamaan hendaknya dilakukan sedemikian rupa sehingga menumbuhkan perasaan aman dan memiliki rasa iman dan takwa kepada sang pencipta.

Apabila latihan-latihan keagamaan diterapkan pada waktu anak masih kecil dalam keluarga dengan cara yang kaku atau tidak benar, maka ketika menginjak usia dewasa nanti akan cenderung kurang peduli terhadap agama atau kurang merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Sebaliknya, semakin banyak si anak mendapatkan latihan-latihan keagamaan sewaktu kecil, maka pada saat ia dewasa akan semakin marasakan kebutuhannya kepada agama (Zakiah Darajat, 1996)

Menurut Umar Hasyim, mempelajari agama di rumah adalah pendidikan yang penting dan akan terasa amat terkesan dan mendalam bagi penghayatan agama oleh keluarga, terutama dalam pembentukan kepribadian agamis anak (Umar Hasyim, 1985).

Keluarga menjadi tempat berlangsungnya sosialisasi yang berfungsi dalam pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk keagamaan. Jika anak mengalami atau selalu menyaksikan praktek keagamaan yang baik, teratur dan disiplin dalam rumah tangganya, maka anak akan senang meniru dan menjadikan hal itu sebagai adat kebiasan dalam hidupnya, sehingga akan dapat membentuknya sebagai makhluk yang taat beragama. Dengan demikian, agama tidak hanya dipelajari dan diketahui saja, tetapi juga dihayati dan diamalkan dengan konsisten (Imam Barnadib, 1983).

Keluarga merupakan masyarakat alamiah yang dalam pergaulan dengan anggotanya memiliki ciri spesifik. Disini pendidikan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan tatanan pergaulan yang berlaku di dalamnya. Dasar-dasar pengalaman dapat diberikan melalui rasa kasih sayang dan penuh kecintaan, kebutuhan akan kewibawaan dan nilai-nilai kepatuhan. Justru karena pergaulan yang demikian itu berlangsung dalam hubungan yang bersifat pribadi dan wajar, maka penghayatan terhadapnya mempunyai arti yang amat penting (Zakiah Darajat, 1992).

(2) Anak memiliki pengetahuan dasar akhlak.

Keluarga merupakan penanaman utama dasar-dasar akhlak bagi anak, yang biasanya bercermin dalam sikap dan prilaku orang tua sebagai teladan yang dapat dicontoh anak. Dalam hubungan ini, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa rasa cinta, rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapat dalam kehidupan keluarga dengan sifat yang kuat dan murni, sehingga pusat-pusat pendidikan lainnya tidak dapat menyamainya (Suwarno, 1985).

Tampak jelas bahwa tingkah laku, cara berbuat dan berbicara akan ditiru oleh anak. Dengan teladan ini, melahirkan gejala identifikasi positif, yakni penyamaan diri dengan orang yang ditirunya. Perlu disadari bahwa sebagai tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah peletak dasar bagi pendidikan anak ialah peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga lainnya (Khursid Ahmad, 1986).

Pendidikan agama sangat terkait dengan pendidikan akhlak. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan akhlak dalam pengertian islam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan agama. Hal tersebut karena agama selalu menjadi parameter, sehingga yang baik adalah yang dianggap baik oleh agama dan yang buruk adalah yang dianggap buruk oleh agama. Oleh sebab itu, tujuan tertinggi pendidikan islam adalah mendidik jiwa dan akhlak (M. Arifin, 1996).

Keluarga adalah sekolah tempat putra putri belajar. Dari sana mereka mempelajari sifat-sifat mulia, sifat kesetiaan, kasih sayang, gairah (kecemburuan positif) dan sebagainya. Dari kehidupan keluarga, seorang ayah atau suami memupuk sifat keberanian dan keuletan dalam upaya membela sanak keluarga dan membahagiakan mereka pada saat hidup dan setelah kematiannya (M. Quraish Shihab, 1997). Keluarga adalah unit terkecil yang menjadi pendukung dan pembangkit lahirnya bangsa dan masyarakat.

Dari segi pendidikan, keluarga memegang peranan yang sangat penting untuk melanjutkan dan mengembangkan sosial budaya yang telah diajarkan kepada anak. Dianggap bahwa kejadian shari-hari dalam kehidupan keluarga, anak-anak harus mempelajari kebenaran dan peraturan-peraturan yang ada, menghormati hak dan perasan orang lain, menghindari pergaulan yang kurang baik dan lain sebagainya (Koestoer Partowisastro, 1983). Pada setiap anak, sebagian besar tingkah lakunya diberi corak oleh tradisi kebudayaan serta kepercayaan keluarga. Hanya saja hal ini belum tentu dapat dipastikan, karena adanya gejala bosan terhadap tradisi lama.

Dasar-dasar kelakuan anak tertanam sejak dini dalam keluarga, sikap hidup serta kebiasaan. Bagaimana pun adanya pengaruh luar, pengaruh keluarga tetap terkesan pada anak karena di dalam keluargalah anak itu hidup dan menghabiskan waktunya. Lingkungan keluarga harus merasa bertanggungjawab atas kelakuan, pembentukan watak, kesehatan jasmani dan rohani (mental) (Sutari Imam Bernadib, 1995).

Jadi penerapan pendidikan keluarga, khususnya dalam pendidikan, akhlak harus dibina dari kecil dengan pembiasaan-pembiasaan dan contoh teladan dari keluarga terutama kedua orang tua. Dengan demikian anak akan memiliki pengetahuan tentang dasar-dasar akhlak.

(3) Anak memiliki pengetahuan dasar sosial.

Anak adalah generasi penerus yang di masa depannya akan menjadi anggota masyarakat secara penuh dan mandiri. Oleh karena itu seorang anak sejak kecil harus sudah mulai belajar bermasyarakat, agar nantinya dia dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang dapat menjalankan fungsi-fungsi sosialnya. Orang tua harus menyadari bahwa dirinya merupakan lapisan mikro dari masyarakat, sehingga sejak awal orang tua sudah menyiapkan anaknya untuk mengadakan hubungan sosial yang di dalamnya akan terjadi proses saling mempengaruhi satu sama lain.

Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama dikenalkan kepada anak, atau dapat dikatakan bahwa seorang anak itu mengenal hubungan sosial pertama-tama dalam lingkungan keluarga. Adanya interaksi anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain menyebabkan seorang anak menyadari akan dirinya bahwa ia berfungsi sebagai individu dan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai individu, ia harus memenuhi segala kebutuhan hidupnya demi untuk kelangsungan hidupnya di dunia ini. Sedangkan sebagai makhluk sosial, ia menyesuaikan diri dengan kehidupan bersama yaitu saling tolong-menolong dan mempelajari adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian, perkembangan seorang anak dalam keluarga sangat ditentukan oleh kondisi keluarga dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh orang tuanya sehingga, di dalam kehidupan bermasyarakat akan kita jumpai bahwa perkembangan anak yang satu dengan yang lain akan berbeda-beda (Abu ahmadi, 1997).

Kehidupan keluarga dibangun atas hubungan-hubungan sosial yang diatasnya terletak tanggung jawab penting terhadap orang perorang dan terhadap masyarakat umum. Mengingat pentingnya kehidupan keluarga dalam masyarakat sehari-hari, maka para pemikir dan filosof zaman klasik telah merencanakan dan menggambarkan segala sesuatu yang dapat menunjang keberhasilan dan kelangsungan keluarga itu. Perhatian para pemikir tentang pangaturan kehidupan masyarakat sangat memprioritaskan kepada pengenalan akan pentingnya keluarga karena ia merupakan inti dan unsur pertama dalam masyarakat (Mustafa Fahmi, 1983).

Lingkungan sosial yang pertama bagi anak ialah rumah. Di sanalah terdapat hubungan yang pertama antara anak dengan orang-orang yang mengurusnya. Hubungan diwujudkan dengan air muka, gerak-gerik dan suara. Karena hubungan ini, anak belajar memahami gerak-gerik dan air muka orang lain. Hal ini penting sekali artinya untuk perkembangan selanjutnya. Air muka dan gerak-gerik itu memegang peranan penting dalam hubungan sosial. Kemudian alat hubungan kedua yang penting yang mula-mula dipelajari di rumah adalah bahasa. Dengan bahasa, anak itu mendapat hubungan yang lebih baik dengan orang-orang yang serumah dengannya. Sebaliknya anak dapat pula berkata yang tidak senonoh atau mencaci maki dengan menggunakan bahasa pula.

Hal yang penting diketahui bahwa lingkungan keluarga itu akan membawa perkembangan perasaan sosial yang pertama misalnya, perasaan simpati yaitu suatu usaha untuk menyesuaikan diri dengan perasaan orang lain. Anak-anak itu merasa simpati kepada orang dewasa dan juga kepada orang yang mengurus mereka. Dari rasa simpati itu tumbuhlah kelak pada anak-anak itu rasa cinta terhadap orang tua dan kakak-kakaknya. Demikian pula, perasaan simpati itu menjadi dasar untuk perasaan cinta terhadap sesama manusia. Di samping itu, lingkungan keluarga dapat memberi suatu tanda peradaban yang tertentu kepada sekalian anggotanya. Dari caranya bercakap-cakap, berpakaian, bergaul dengan orang lain, dapat kita kenal pertama kali dalam lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perasaan sosial anak selanjutnya.

Sebagai akibat dari pengalaman sosialnya, anak yang sedang berkembang menerima sejumlah besar ilmu tentang dunia dan bagaimana dunia beroperasi. Ia juga akan mengembangkan nilai-nilai tentang bagaimana ia harus berinteraksi dengan dunia itu. Pendidikan informal adalah semua pengajaran dan pelajaran yang dilakukan atau dialami manusia sepanjang hidupnya (D.F Swiff, 1989).

Dengan demikian, terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua terhadap anak. Bagi seorang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat di mana ia menjadi pribadi atau diri sendiri. Selain itu, keluarga juga merupakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dan fungsi sosialnya. Di samping itu, keluarga merupakan tempat belajar bagi anak dalam segala sikap untuk berbakti kepada Tuhan sebagai perwujudan hidup yang tertinggi.

PENUTUP

Berdasarkan keterangan terdahulu, berikut ini dikemukakan kesimpulan dari pembahasan sebagai berikut: (1) penerapan pendidikan agama terhadap anak dalam keluarga secara dini memiliki tingkat urgenitas yang sangat besar. Hal tersebut mengingat bahwa peranan yang dimainkan oleh lembaga pendidikan formal tidak mampu menggantikan posisi lembaga keluarga dalam penanaman nilai-nilai moral keagamaan. Fenomena tersebut menempatkan pendidikan dalam lembaga keluarga menempati posisi strategis. Dalam hal ini, lembaga keluarga di samping menanamkan modal dasar bagi anak, juga melengkapi kekurangan-kekurangan sistem pendidikan formal, (2) penerapan pendidikan agama terhadap anak sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan tingkah laku anak. Pemberian modal-modal keagamaan dalam keluarga, secara garis besarnya dapat melahirkan implikasi-implikasi sebagai berikut: (a) anak memiliki pengetahuan dasar-dasar keagamaan, (b) anak memiliki pengetahuan dasar akhlak, (c) anak memiliki pengetahuan dasar sosial. Pengetahuan-pengetahuan dasar tersebut memiliki arti penting untuk pencapaian tujuan asasi dari pendidikan Islam, yaitu penanaman iman dan akhlaqul karimah.

Mengingat besarnya peranan yang dimainkan keluarga dalam penanaman nilai-nilai moral terhadap anak, maka berikut ini penulis menawarkan beberapa saran sebagai berikut: (1) perlu adanya kerjasama yang baik antara pihak lembaga pendidikan formal dengan lembaga keluarga dalam membina para peserta didik. Terjadinya miskomunikasi antara pihak pengelola lembaga pendidikan formal akan melahirkan model pendidikan yang tidak terpadu. Fenomena seperti itu dengan sendirinya akan berkonsekuensi terhadap lahirnya sikap saling menyalahkan antara pihak lembaga pendidikan formal dengan pihak orang tua peserta didik. Sebaliknya, terjadi komunikasi yang produktif antara kedua lembaga tersebut akan melahirkan rumusan-rumusan dan pola-pola pembinaan terpadu, sehingga kekurangan-kekurangan sistem kurikulum pendidikan formal akan diisi oleh orang tua peserta didik dengan pembinaan-pembinaan yang saling mendukung keberhasilan peserta didik, (2) mengingat besarnya peranan orang tua dalam penanaman nilai-nilai moral dan keagamaan anak, maka pendidikan tidak hanya penting diterapkan kepada anak, akan tetapi juga terhadap orang tua. Minimnya pengetahuan keagamaan orang tua juga sangat mempengaruhi kualitas pembinaannya terhadap anak. Oleh sebab itu, dipandang perlu untuk merumuskan pola-pola pembinaan orang tua secara terencana oleh pihak pemerintah bekerjasama dengan pihak sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasyiy, Muhammad ‘A-iyyah. 1996. Roh Al-Islam, diterjemahkan oleh Syamsuddin Asyrofi et al. Dengan judul Beberapa Pemikiran Pendidikan Isla (Cetakan Pertama).Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

Ahmad, Khursid. 1986. Family Life in Islam, diterjemahkan oleh Soetomo dengan judul Keluarga Muslim (Cetakan Pertama). Bandung: Risalah.

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 1991 Ilmu Pendidikan (Cetakan Pertama). Jakarta: Rineka Cipta.

----------. 1991. Sosiologi Pendidikan. (Cetakan Pertama). Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmed, Akbar S. 1993. Post Modernisme and Islam; Predicement and Promise, terjemahan Bahasa Indonesia dengan judul Posmodernisme; Bahaya dan Harapan Bagi Islam. Bandung: Mizan.

Aly, Hery Noer dan H. Munzier, S. 2000. Watak Pendidikan Islam (Cetakan Pertama). Jakarta: Friska Agung Insani.

Arifin, M. 1996. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner (Cetakan Keempat). Jakarta: Bumi Aksara.

Barnadib, Imam. 1983. Pemikiran Tentang Pendidikan Baru. Yogyakarta: Andi Offset.

------------. Imam. 1995. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis (Cetakan kelima belas). Yogyakarta: Andi Offset.

Daradjat, Zakiah. 1996. Ilmu Jiwa Agama (Cetakan Kelima belas). Jakarta: Bulan Bintang.

-------------.1992. Ilmu Pendidikan Islam (Cetakan Kedua). Jakarta: Bumi Aksara.

-------------. 1993. Tinjauan Anak Dalam Keluarga: Tinjauan Psikologi Agama, dalam Jalaluddin Rakhmat dan Mukhtar Gandaatmaja, (peny.), Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern (Cetakan Pertama). Bandung: Remadja Rosdakarya.

Departemen Agama RI. 1989. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: Toha Putra.

Fahmi, Mustafa. 1983. Penyesuaian Diri: Lapangan Implementasi Dari Penyesuaian Diri (Cetakan Pertama). Jakarta: Bulan Bintang.

Getteng, H. Abd. Rahman. 1997. Pendidikan Islam dalam Pembangunan. Ujungpandang: Yayasan al-Ahkam.

Harahap, H. Syahrin. 1999. Islam; Konsep dan Imlementasi Pemberdayaan. (Cetakan Pertama). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Hasbullah. 1999. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Cetakan Pertama). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hasyim, Umar. 1985. Cara Mendidik Anak dalam Islam, Seri II. Surabaya: Bina Ilmu.

Ibnu Musthafa. 1997. Keluarga Islam Menyongsong Abad 21 (Cetakan Kedua). Bandung: Mizan, 1997

Izzat, Hibbah Rauf. 1997. Al-Mar’ah Wa al-‘Amal al Siysiy: Ru’yah Islamiah. Diterjemahkan oleh Baharuddin Fannani dengan judul Wanita dan Politik; Pandangan Islam (Cetakan Pertama). Bandung: Remadja Rosdakarya, 1997

Langgulung, Hasan. 1995. Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. (Cetakan Ketiga). Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995.

Madjid, Nurcholish. 2000. Islam Doktrin dan Peradaban; Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan. (Cetakan Keempat). Jakarta: Paramadina.

Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 2000. Karya Ki Hajar Dewantara, Bagian I. Yogyakarta: t.p.

Muhaimin dan Abd. Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis Kerangka Dasar Operasionalnya (Cetakan Pertama). Bandung: Trigenda Karya.

Nasution, Harun. 1995. Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran. Jakarta: Mizan.

Partowisastro, Koestoer. 1983. Dinamika dalam Psikologi Anak (Jilid I Cetakan Pertama). Jakarta: Erlangga.

Rivai, Melly Sri Sulastri. 1993. Suatu Tinjauan Historis Prospektif tentang Perkembangan Kehidupan dan Pendidikan Keluarga, dalam Jalaluddin Rakhmat dan Mukhtar Gandaatmaja (peny.), Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern. (Cetakan Pertama). Bandung: Remadja Rosdakarya.

Shihab, M. Quraish. 1997. Membumikan al-Qur’an (Cetakan Kedua). Bandung: Mizan.

Soejono, Ag. 1979. Aliran Baru Dalam Pendidikan (Cetakan Pertama). Bandung: CV. Ilmu.

Suwarno. 1985. Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru.

Swiff, D.F. 1989. the Sociology of Education: Introductory Analitycal Perpectives, diterjemahkan oleh Panuti Sudjiman dan Greta Librata dengan judul Sosiologi Pendidikan: Penrspektif Pendahuluan yang Analitis. Jakarta: Bharata Niaga Media.

Syamsuddin, M., TB. Abin. 1993. Kata Sambutan,